KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi
di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras,
etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Kebudayaan
adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta
berlangsung dari generasi ke generasi (Tubbs, Moss:1996).
Gudykunst dan Kim (1992)memberi contoh komunikasi
antar budaya sebagai berikut: Perhatikan kunjungan seorang asing yang menganut
budaya bahwa kontak mata selama berkomunikasi adalah tabu di Amerika Utara.
Bila si orang asing berbicara kepada penduduk Amerika Utara dengan menghindari
kontak mata, maka ia dianggap menyembunyikan sesuatu atau tidak berkata benar.
Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu
dapat dilakukan:
1. Dengan negosiasi untuk
melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema
(penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak
sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan
makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan.
2. Melalui pertukaran
sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam
komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian
makna yang sama.
3. Sebagai pembimbing
perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai
pengaruh terhadap perilaku kita.
4. Menunjukkan fungsi
sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan
mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.
Hakikat
Komunikasi Antarbudaya
- Enkulturasi
Enkulturasi mengacu pada proses dengan mana kultur (budaya) ditransmisikan dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Kita mempelajari kultur, bukan
mewarisinya. Kultur ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen.
Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama
dibidang kultur. Enkulturasi terjadi melalui mereka.
- Akulturasi
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur
seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur
lain. Misalnya,
bila sekelompok imigran kemudian berdiam diAmerika
Serikat (kultur
tuan rumah), kultur mereka sendiri akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini.
Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur
tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu
yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah.
Fungsi-Fungsi
Komunikasi Antarbudaya
- Fungsi Pribadi
Fungsi pribadi
adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku
komunikasi yang bersumber dari seorang individu. Menyatakan Identitas Sosial
Dalam proses
komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang
digunakan untuk menyatakan identitas sosial.Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan
berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku
berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat
diketahui asal usul suku bangsa, agama,
maupun tingkat pendidikan seseorang.
·
Menyatakan Integrasi Sosial
Inti konsep integrasi
sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi,
antarkelompok namun tetap mengakui
perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Perlu dipahami bahwa salah
satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan yang dibagi
antara komunikator dan komunikan. Dalam kasus komunikasi antarbudaya yang
melibatkan perbedaan budaya antar komunikator dengan komunikan, maka integrasi
sosial merupakan tujuan utama komunikasi. Dan prinsip utama dalam proses
pertukaran pesan komunikasi antarbudaya adalah: saya memperlakukan anda
sebagaimana kebudayaan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya
kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan
integrasi sosial atas relasi mereka.
Menambah Pengetahuan
Seringkali komunikasi
antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling
mempelajari kebudayaan masing-masing.
Melepaskan Diri atau Jalan Keluar
Kadang-kadang kita
berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan keluar
atas masalah yang sedang kita hadapi. Pilihan komunikasi seperti itu kita
namakan komunikasi yang berfungsi menciptakan hubungan yang komplementer dan
hubungan yang simetris.
Hubungan komplementer
selalu dilakukan oleh dua pihak mempunyai perlaku yang berbeda. Perilaku seseorang berfungsi
sebagai stimulus perilaku komplementer dari yang
lain. Dalam hubungan komplementer, perbedaan di antara dua pihak dimaksimumkan. Sebaliknya hubungan yang simetris
dilakukan oleh dua orang yang saling bercermin pada perilaku lainnya. Perilaku satu orang tercermin
pada perilaku yang lainnya.
- Fungsi Sosial
Pengawasan
Funsi sosial yang
pertama adalah pengawasan. Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator
dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap
proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan.
Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarlusakan secara rutin
perkembangan peristiwa yang terjadi disekitar kita meskipun peristiwa itu
terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan yang berbeda.
Menjembatani
Dalam proses komunikasi
antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang
berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka.
Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka
pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan
sehingga menghasilkan makna yang sama. Fungsi ini dijalankan pula oleh pelbagai
konteks komunikasi termasuk komunikasi
massa.
Sosialisasi Nilai
Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk
mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada
masyarakat lain.
Menghibur
Fungsi menghibur juga
sering tampil dalam proses komunikasi antarbudaya. Misalnya menonton tarian hula-hula dan "Hawaian"
di taman kota yang terletak di depan HonoluluZaw, Honolulu, Hawai.
Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.
Prinsip-Prinsip Komunikasi Antarbudaya
- · Relativitas Bahasa
Gagasan umum bahwa bahasa memengaruhi pemikiran dan perilaku paling banyak disuarakan oleh
para antropologis linguistik.
Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa
karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif kita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal
karakteristiksemantik dan strukturnya, tampaknya masuk
akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga
akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
- · Bahasa Sebagai Cermin Budaya
Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan
budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan
antara budaya (dan, karenanya, makin besar perbedaan komunikasi), makin sulit
komunikasi dilakukan.Kesulitan ini dapat mengakibatkan, misalnya, lebih banyak
kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih besar kemungkinan
salah paham, makin banyak salah persepsi, dan makin banyak potong kompas (bypassing).
- · Mengurangi Ketidak-pastian
Makin besar perbedaan
antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam komunikasi.
Banyak dari komunikasi kita berusaha mengurangi ketidak-pastian ini sehingga
kita dapat lebih baik menguraikan, memprediksi, dan menjelaskan perilaku orang
lain. Karena letidak-pasrtian dan ambiguitas yang lebih besar ini, diperlukan
lebih banyak waktu dan upaya untuk mengurangi ketidak-pastian dan untuk
berkomunikasi secara lebih bermakna.
- · Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya
Makin besar perbedaan
antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan
selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif. Positifnya,
kesadaran diri ini barangkali membuat kita lebih waspada. ini mencegah kita
mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Negatifnya,
ini membuat kita terlalu berhati-hati, tidak spontan, dan kurang percaya diri.
- · Interaksi Awal dan Perbedaan Antarbudaya
Perbedaan antarbudaya
terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur
berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun
kita selalu menghadapi kemungkinan salah persepsi dan salah menilai orang lain,
kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.
- · Memaksimalkan Hasil Interaksi
Dalam komunikasi
antarbudaya - seperti dalam semua komunikasi - kita berusaha memaksimalkan
hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank (1989)
mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai
contoh, orang akan berintraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan
memberikan hasil positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, anda mungkin
menghindarinya. Dengan demikian, misalnya anda akan memilih berbicara dengan
rekan sekelas yang banyak kemiripannya dengan anda ketimbang orang yang sangat
berbeda.
Kedua, bila kita
mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan meningkatkan
komunikasi kita. Bila
kita memperoleh hasil negatif, kita mulai menarik diri dan mengurangi
komunikasi.
Ketiga, kita mebuat
prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan hasil positif. dalam
komunikasi, anda mencoba memprediksi hasil dari, misalnya, pilihan topik,
posisisi yang anda ambil, perilaku nonverbal yang anda tunjukkan, dan
sebagainya. Anda
kemudian melakukan apa yang menurut anda akan memberikan hasil positif dan
berusaha tidak melakkan apa yang menurut anda akan memberikan hasil negatif.
Banyak orang menganggap bahwa melakukan komunikasi itu mudah, semudah orang
bernafas, karena kita terbiasa melakukannya sejak lahir. Namun setelah orang
pernah merasakan hambatan atau “kemacetan” ketika melakukan komunikasi, barulah
disadari bahwa komunikasi ternyata tidak mudah. Penelitian ini menganalisis
masalah komunikasi antar budaya dalam menciptakan hubungan harmonis antar etnis
di Kota Medan. Tujuan yang hendak dicapai adalah mendeskripsi pengaruh
komunikasi antar budaya dalam menciptakan hubungan harmonis antar etnis di Kota
Medan dengan pendekatanKritik Budaya (Cultural Critics).
Penelitian menggunakan survey yang datanya dikumpulkan dari sampel sebagai
contoh dari populasi, untuk menjelaskan hubungan, kontribusi serta pengaruh
antara variabel yang satu terhadap variabel yang lain melalui pengujian
hipotesis, atau penelitian eksplanatori(explanatory research).
Data diperoleh berdasarkan data primer, yaitu data yang dikumpulkan melalui
daftar pertanyaan berbentuk Skala dan data sekunder, yaitu data yang bersumber
dari pustaka, rekaman, keterangan lisan dan tertulis dari pakar yang mengetahui
tentang masalah yang diteliti.
Populasi penelitian ini adalah seluruh penduduk warga Kecamatan Medan Area
dan Kecamatan Medan Kota yang berusia 35 – 40 tahun. Kriteria penetapan sampel
didasarkan pada golongan usia antara umur 35 tahun sampai 40 tahun, dengan
pertimbangan sudah berkeluarga dan bekerja, sehingga diasumsikan lebih sering
berinteraksi sosial dengan etnis lain. Untuk menghitung besarnya sampel didasarkan
pada Rumus Yamane yang mengajukan pilihan ukuran sampel berdasarkan tingkat
presisi dan tingkat kepercayaan serta besarnya populasi, sehingga diperoleh
sebanyak 389 sampel.
Penelitian ini menemukan, bahwa persepsi stereotip, dari etnis- (Etnis Cina)
cenderung semakin
negative terhadap etnis mayoritas. Etnis mayoritas dianggap
kurang superior dari minoritas. Etnis yang cenderung memilih komunikan dari
kalangan anggota etnisnya menjadi pasangan dalam bentuk-bentuk interaksi
sosial, terdorong oleh besamya harapan dan kepercayaan akan rasa aman terhadap
intra etnis daripada etnis lain. Sebaliknya etnis yang memilih komunikan dari
etnis lain dalam interaksi sosial adalah karena tidak membedakan kredibilitas
etnisnya dengan etnis lain yang dipilihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar